Bupati Madiun Berbagi Pengalaman Setelah Pulang Dari Amireka Serikat


jagadpos.id, Madiun - Bupati Madiun H. Ahmad Dawami dihadapan para pimpinan OPD, berbagi pengalaman selama dirinya ikut dalam International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat. Bupati Madiun  mengucapkan syukur telah menjadi orang Indonesia, di depan para pimpinan OPD Kabupaten Madiun, Selasa (25/2/2020). 

Menurutnya, meski AS itu negara maju, namun disparitasnya luar biasa. Waktu berkunjung ke Minot, penduduk asli Amerika (suku Indian) masih banyak dan pembangunannya paling tertinggal dibanding kota lain. Namun mereka sangat menjaga sukunya, perbedaan justru ditonjolkan untuk identitas, namun kecintaannya kepada AS tetap nomor satu. 

Ketika Bupati Madiun bertanya kepada penduduk pribumi, mereka menjelaskan para pendahulu AS menanamkan jiwa nasionalisme sangat tinggi tanpa sosialisasi.

Ia menambahkan, di Negeri Paman Sam itu seluruh bangunan sudah menunjukkan sosialisasi tentang sejarah dan nasionalisme. Contoh, gedung putih tempat berkantor Presiden dibangun patungnya Thomas Jafferson yang menghadap gedung putih, yang mengandung pesan bahwa siapapun Presiden Amerika merasa diawasi pendahulunya, sehingga mereka menghargai sejarah itu kuat sekali, dan hampir semua orang Amerika bisa cerita sejarah negaranya.

Bupati Madiun menambahkan sejarah Presiden Abraham Lincoln. Pada pemerintahan Presiden ke-16 AS itu ada perang saudara, dan Abraham Lincoln bisa menyelesaikan meski akhirnya harus gugur, dan untuk mengenangnya maka dibangun pantung sang Presiden dalam posisi duduk. Menurut Bupati, setelah orang AS melihat patung itu maka mereka bisa menterjemahkan bahwa orang AS tidak boleh lagi bermusuhan, sesama mereka harus rukun tidak boleh lagi ada perang.

“Jadi tidak ada sosialisasi, cukup melihat patung itu maka seluruh orang AS sudah bisa membaca makna yang tersirat di patung itu, bahkan bekas berdirinya Presiden Abraham Lincoln berpidato masih dirawat dengan baik, yang satu ini kita masih agak ketinggalan," ujar Haji Mbing sapaan akrab Ahmad Dawami.

Lanjutnya, "misalkan disini (Kabupaten Madiun) dibangun tugu kampung pesilat dalam bentuk patung saya (Bupati) dengan pak Wabup, pasti banyak orang menilai itu politik. Tapi kalau di AS tidak, patung itu pesan untuk anak cucu,” tandas Bupati tanpa bermaksud mengagung-agungkan Pemerintah AS.

Begitupun untuk menggugah kesadaran masyarakat terhadap sebuah bencana, kata Bupati, Pemerintah AS cukup membangun semacam tugu yang diberi tanda bekas ketinggian banjir berikut nama-nama korbannya. Hal ini untuk mengingatkan musibah banjir itu, sekaligus memberi pendidikan akan bahaya banjir. “Jadi tidak diberi sosialisasi langsung cukup dibangun tugu, ternyata malah efektif untuk menjelaskan ke anak-anak tanpa memakan biaya banyak,” ujar Bupati Madiun.

Mengenai pengelolaan sampah, kata Bupati Madiun, metodenya hampir mirip. Bedanya, lahan yang dipakai di AS jauh lebih luas. Mengenai PAD (Pendapatan Asli Daerah) di AS semua bersumber dari pajak, dan pengelolahanya hampir seluruhnya diserahkan ke swasta dengan nilai pajak yang luar biasa dengan sifatnya yang dinamis.

“Jadi kita ini memang genetiknya berbeda, makanya sampai Amerika-pun makanannya berbeda. Dan saya untuk adaptasi makanan cukup sulit. Bahkan telur yang dicampur dagingpun, saya harus bertanya dulu sebelum saya makan. Terima kasih atas doa semua masyarakat Madiun, saya berangkat sehat dan pulangpun sehat. Dan apa yang saya dapat di AS akan kita konversi dulu disesuaikan dengan program di Madiun sini,” jelasnya. (s.rud)

Reactions

Post a Comment

0 Comments